Orang Tua Diminta Dampingi Anak Memakai AI, Bukan Sekadar Melarang
Dalam acara bersama OpenAI di Jakarta pada 30 September 2026, para pembicara mengajak orang tua mendampingi anak memakai AI. Orang tua tidak perlu menguasai semuanya, cukup hadir, berdiskusi dan membiasakan memeriksa ulang jawaban.
Ringkasnya
- Dalam acara bersama OpenAI di Jakarta pada 30 September 2026, para pembicara menyarankan orang tua mendampingi anak memakai AI, bukan sekadar melarang.
- Orang tua tidak perlu tahu semua hal tentang AI; yang penting tahu kapan mengingatkan dan kapan duduk bersama anak.
- AI dinilai bisa melatih berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan komunikasi anak, asalkan orang tua tetap terlibat.
Dalam acara Media Gathering dan Workshop PandAI bersama OpenAI di Jakarta pada 30 September 2026, sejumlah pembicara membahas cara orang tua mendampingi anak yang mulai mengenal kecerdasan buatan (AI). Pesan utamanya: orang tua tidak harus melarang, dan tidak harus menguasai semua hal tentang AI.
Orang tua tidak perlu tahu segalanya
Mungkin kamu bertanya, bagaimana mau mendampingi kalau teknologinya saja belum paham? Cipluk Carlita dari OpenAI menilai hal itu wajar. Menurutnya, teknologi berkembang sangat cepat, jadi orang tua tidak perlu tahu semuanya. Yang lebih penting adalah tahu kapan harus mengingatkan dan kapan duduk bersama anak untuk menjelajahi AI. Meski begitu, keluarga tetap perlu beradaptasi agar orang tua tahu bagaimana anak memakai teknologi di rumah maupun di sekolah.
Bayangkan orang tua yang menemani anak belajar naik sepeda. Ia tidak perlu bisa merakit sepedanya; cukup memegangi jok, memberi aba-aba, lalu melepaskan pelan-pelan. Tentu, bedanya, informasi dari AI kadang perlu diperiksa kembali, sedangkan sepeda tidak memberi jawaban yang bisa keliru. Karena itu, kehadiran orang tua tetap penting.
Tiga keterampilan yang dilatih
Pritta Tyas Mangestuti menyebut tiga keterampilan yang penting dikembangkan: critical thinking (berpikir kritis), curiosity (rasa ingin tahu), dan communication (komunikasi). Menurutnya, ketiganya membantu anak menganalisis informasi, mencari cara lain saat menghadapi masalah, dan menyampaikan pikiran dengan lebih terstruktur.
Contohnya saat anak mengerjakan soal matematika. Anak dan orang tua bisa berdiskusi dengan bantuan ChatGPT untuk memahami cara penyelesaiannya. Pritta menekankan bahwa AI bukan alat instan pengganti proses berpikir. Anak tetap perlu tahu apa yang dicari dan menyusun pertanyaan dengan baik, baru memakai AI untuk membantu menemukan jawaban.
Larangan dan ceramah berisiko
Damar Wijayanti mengatakan larangan dan ceramah terus-menerus berisiko membuat remaja tidak benar-benar mendengarkan orang tua. Ia berpendapat, “Anak lebih baik dilibatkan secara langsung saat menggunakan AI.”
Dalam praktiknya, orang tua bisa mengajak anak membedah ide dari AI dan menilai apakah saran itu cocok dengan kebutuhannya. Dengan begitu, AI menjadi alat untuk mencari ide, sedangkan keputusan tetap di tangan anak dengan pendampingan orang tua. Sandy Kunvatanagarn dari OpenAI menambahkan bahwa setiap keluarga punya kondisi dan aturan berbeda, sehingga percakapan antara orang tua dan anak penting untuk menentukan cara pakai yang sesuai.
Perlu dicatat, acara ini diselenggarakan bersama OpenAI dan sebagian pembicaranya berasal dari perusahaan itu. Jadi yang disampaikan di sini adalah pandangan para narasumber, bukan hasil penelitian yang diuji pihak lain.
Apa artinya buat kamu?
Berita ini tidak mengubah aturan atau fitur apa pun. Dampaknya lebih berupa cara pandang: kalau di rumahmu ada anak atau remaja yang mulai memakai AI, kamu tidak harus menjadi ahli dulu untuk menemaninya.
Ini bisa menjadi sinyal bahwa obrolan soal AI dan anak bergeser dari boleh atau tidak boleh, menjadi bagaimana mendampingi. Pertanyaan itu cepat atau lambat akan dihadapi banyak keluarga, dan para pembicara sendiri menekankan bahwa tiap keluarga punya aturan berbeda.
Satu hal kecil yang bisa kamu coba: minta anak menunjukkan satu pertanyaan yang ia ajukan ke AI, lalu periksa bersama apakah jawabannya masuk akal dan dari mana kalian bisa mengeceknya.
Sumber
Artikel ini disusun dengan bantuan AI oleh Elara, persona AI Nadi, lalu diperiksa dan disunting oleh redaksi manusia sebelum terbit. Baca cara kerja kami di Kebijakan Redaksi.