Pemprov Jawa Barat Hentikan Sementara Data Center BDx Jatiluhur

Share

Ringkasnya

  • Pemprov Jawa Barat menghentikan sementara pembangunan data center BDx di Jatiluhur, delapan hari setelah pembangunan dimulai pada 22 September 2026.
  • Izin AMDAL dan PBG masih diproses, sementara kebutuhan air proyek sebesar 384 liter per detik menjadi sorotan.
  • Proyek ini menunjukkan bahwa pusat data AI membawa pertanyaan soal air, listrik, dan perizinan ke tingkat daerah.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan sementara pembangunan data center BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, membenarkannya pada 30 September 2026. Pembangunan baru dimulai pada 22 September 2026, delapan hari sebelumnya.

Alasannya, sejumlah syarat pembangunan masih diproses, termasuk AMDAL (kajian dampak lingkungan) dan PBG (Persetujuan Bangunan Gedung). Menurut Adi, penghentian berlaku sampai izin yang menjadi wewenang Pemkab Purwakarta dikeluarkan.

Data center adalah gedung berisi komputer berdaya besar untuk menyimpan dan memproses data, termasuk menjalankan AI. Proyek bernama CGK4 ini direncanakan berkapasitas hingga 640 MW. MW atau megawatt adalah satuan daya listrik, jadi angka sebesar itu berarti kebutuhan listrik yang besar. Lokasinya berjarak lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur.

Pembangunan direncanakan berlangsung tiga tahun dan beroperasi bertahap. Gedung 1 akan berkapasitas 120 MW, kurang dari seperlima total rencana, dengan operasional awal 2027. Listriknya dari PLN, dan perusahaan menjajaki jalur energi rendah karbon, termasuk tenaga air bersama PJT.

Fasilitas ini memakai pendingin cair langsung ke chip (direct-to-chip liquid cooling), yaitu cairan dialirkan dekat chip untuk membuang panas. Sistemnya dirancang untuk 500 kW per rak. Menurut keterangan perusahaan, CGK4 bagian dari ekspansi AI BDx yang didukung pinjaman US$320 juta pada 2026. Sumber juga menyebut kabar bahwa proyek ini bisa membuka 2.000 sampai 3.000 lapangan kerja secara bertahap, tanpa menjelaskan asal angkanya.

Kekhawatiran soal air

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan kebutuhan air harus dihitung sejak awal, bukan setelah operasional penuh, agar tidak mengganggu air untuk pertanian. Dari penjelasan yang ia terima, kebutuhan air pusat data mencapai 384 liter per detik, atau sekitar 0,4 meter kubik per detik, dan akan naik berkala seiring pengembangan.

Tahap awal disebut membutuhkan 6.000 meter kubik per hari. Jika dihitung dari angka itu, setara sekitar 69 liter per detik, atau sekitar seperlima dari 384 liter per detik. Air diambil dari Jatiluhur dan dibeli lewat PDAM.

Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyih, meminta pemerintah membuka untung-rugi proyek ke publik. Ia menyebut isu penggunaan air, kebisingan, dan karbon. Menurutnya, kebutuhan industri juga sebaiknya tidak menggeser petani yang bergantung pada irigasi Waduk Jatiluhur.

Yang belum diketahui

Sumber tidak menyebut berapa lama penghentian berlangsung, kapan izin terbit, atau apakah target operasional awal 2027 akan bergeser. Belum jelas pula apakah angka 384 liter per detik untuk tahap awal atau seluruh fasilitas. Spesifikasi teknis dan proyeksi lapangan kerja berasal dari perusahaan dan belum diverifikasi pihak independen.

Apa artinya buat kamu?

Dampak langsung bagi kebanyakan pembaca kecil. Aplikasi AI yang kamu pakai hari ini tidak akan berubah karena penghentian ini, sebab proyeknya baru dimulai dan operasionalnya baru direncanakan awal 2027. Yang realistis dalam waktu dekat adalah proses perizinan dan perdebatan soal air, terutama bagi warga dan petani sekitar Jatiluhur.

Jika proyek berjalan, tambahan kapasitas untuk permintaan AI baru terasa nanti. Kasus ini bisa menjadi sinyal bahwa pertumbuhan AI membawa urusan air, listrik, dan izin ke daerah. Kamu bisa memantau apakah hasil AMDAL dan hitungan kebutuhan air dibuka ke publik.

Kalau ada pusat data dibangun dekat tempat tinggalmu, informasi apa yang ingin kamu ketahui lebih dulu?

Sumber

Artikel ini disusun dengan bantuan AI oleh Orion, persona AI Nadi, lalu diperiksa dan disunting oleh redaksi manusia sebelum terbit. Baca cara kerja kami di Kebijakan Redaksi.